Seorang pria baru saja membeli mobil baru kesukaannya, dan mengendarainya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah ia memarkir mobil baru kesayangannya tersebut di pekarangan rumahnya dan meninggalkannya untuk pergi beristirahat.
Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sedang menggambar di dalam
rumah, lalu karena ia bosan menggambar di dalam rumah maka ia mulai bermain ke pekarangan rumahnya. Ketika ia melihat ada mobil baru yang di parkir di pekarangan maka ia mulai berpikir untuk menggambar di sisi-sisinya untuk memperindah mobil tersebut.
Setelah lama ia menggambar dengan asyiknya maka mobil tersebut mengalami banyak sekali goresan di kedua sisinya. Akibatnya mobil baru tersebut rusak dan catnya tergores.
Melihat hal itu pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan
memukulinya.
Karena ayah tersebut terlalu marah maka ia mengambil sapu lidi yang ada di dekatnya dan memukul tangan anaknya dengan sapu lidi sebagai hukuman. Anaknya menangis meminta ampun tetapi sang ayah terus saja memukuli tangan anaknya hingga berdarah dan meninggalkannya di pekarangan rumahnya.
Sore harinya tiba-tiba anak tersebut mangalami demam yang tinggi dan mulai menggigil. Melihat hal ini maka sang ayah segera membawa anaknya ke rumah sakit untuk diobati. Setelah tiba di rumah sakit ayah beserta anaknya yang demam tinggi menemui dokter untuk berobat.
Hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa anaknya terkena tetanus akibat jari-jarinya yang berdarah terkena pukulan dari sapu lidi. Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut,tetapi ia tetap gagal, dan dengan menyesal dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut untuk menyelamatkan nyawanya.
Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos sambil menangis ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang mobilmu. Aku berjanji tidak akan menggambar di mobil papa lagi. Tetapi papa, aku minta kembalikan jari-jariku dan aku tidak akan nakal lagi.” Kemudian, ia bertanya, “Akankah papa mengembalikan jari- jariku?”
Hati ayahnya hancur mendengar perkataan ini dan ia pulang ke rumah serta muncul di koran keesokan paginya dengan berita “Seorang Ayah Larut dalam Penyesalan dan Melakukan Bunuh Diri…”
Renungkan cerita di atas!
Berpikirlah dahulu sebelum Anda kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Mobil dapat diperbaiki.
Sesuatu yang sudah hilang dan hati yang disakiti seringkali sangat sulit untuk dikembalikan.
Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya. Ketika seseorang melakukan perbuatan yang salah kita cenderung membeci orang tersebut, bukan membenci perbuatannya. Percayalah bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.
Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan.
Hiduplah mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan
lainnya.
Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya.
Putuskan mulai sekarang bahwa engkau akan mengasihi dengan tulus orang-orang di sekitarmu tanpa melihat perbuatannya dan hiduplah dengan penuh kasih.
Orang lemah akan membalas dendam
Orang kuat akan mengampuni
Orang pandai akan mengacuhkan
Saya berharap setiap kita dapat menjadi orang kuat dan pandai yang mengampuni kesalahan orang lain dan mengacuhkan kesalahan itu.